Thursday, October 24, 2019

(Impresi Day 2) Kelas Filsafat Dasar LSFD 2019: Kelas Residensi I - Bagian 1

(Disclaimer: artikel ini bakal panjang karena saya benar-benar merangkum impresi saya selama kelas berlangsung. So sit back, relax, and enjoy!)

Hi Dialers!

Selamat datang kembali di seri artikel impresi kelas filsafat dasar LSFD. Bersama saya, mbak-mbak baru lulus yang masih mengincar kesempatan bergaul dengan dedek-dedek kuliah gemes 😏😆. Seperti janji saya sebelumnya, kali ini saya akan mengupas tuntas segala impresi, keseruan, dan barisan aktivitas yang dilaksanakan saat kelas residensi hari pertama. Tanpa banyak basa-basi lagi, yuk simak selengkapnya di bawah!

(source)

Very First Impression tentang Tempat Kelas Residensi

Halaman Depan Dialectic Gallery, tapi foto ini bukan kelas filsafat dasar yaa (source)

Kelas residensi dua hari berturut-turut digelar di Dialectic Gallery yang terletak di Jalan Sumbing. Lokasi galeri seni adem nan asri ini jaraknya hanya beberapa rumah di belakang Malang Strudel. Dialectic Gallery sendiri adalah rumah lawas dari seorang seniman bernama Pak Bambang SW.  Ia disulap menjadi sebuah galeri seni yang tak besar tapi sangat sangat homey dan bikin betah sekali💖.

Di bagian depan bangunan galeri pun, terdapat sebuah halaman yang dihiasi rerumputan hijau dan pohon Plumeria yang rindang. Sehingga, tidak heran kalau galeri ini sering juga dijadikan spot yang intimate untuk acara bedah buku, seminar, dan acara seni/kebudayaan lainnya. Pertama kali ke galeri ini, saya auto jatuh cinta sekaligus agak merasa kuper juga. Pasalnya, selama lebih dari dua puluh tahun hidup di Malang, saya baru tahu kalau ternyata ada spot galeri seni yang se-asoy ini. 

Bagian Dalam Galeri

Menurut jadwal sih, kelas bakal dimulai pukul 1 siang. Tapi ya, namanya juga jam karet Indonesia, kelas baru dimulai pukul setengah 2 siang gara-gara menunggu banyak peserta yang belum datang. Saya sendiri sampai di tempat pada pukul 1 kurang dan bertemu dengan peserta lain yang bernama Mida. Mbak-mbak ini asalnya dari Cianjur dan berkuliah di Sastra Cina UB. Beruntung kemarin malam, kami sudah saling berkenalan. Jadinya kami anti awkward deh haha.

Ciluk ba...
Sebelum kelas dimulai, Mida mengajak saya untuk melihat-lihat beberapa lukisan yang terpampang di galeri. Dan saya pun menahan tawa ketika mendapati lukisan portrait Karl Marx di sebuah ruangan galeri. Tenang, tenang, beliau hanya dianggap sebagai seorang tokoh kok di galeri ini. Kegiatan kelas ini tidak akan ada propaganda komunisnya kok. Mungkin nanti, di sesi kelas reguler pun hanya akan meninjau teori yang beliau kemukakan saja. Ibaratnya, bak membahas teori kritik sastra ala Marxism di perkuliahan saya dulu hehe.

Kelas Metafisika

Sekilas tentang PPT Materi Metafisika dari Mbak Dika
Nah, materi pertama yang akan disampaikan pada kelas residensi I ini adalah materi tentang metafisika. Mantap lah, saya selama ini pening sendiri kalau belajar tentang materi filsafat yang satu ini. Namun di lain sisi, saya juga lumayan menggemarinya karena dia mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak saya. Secara sederhana, metafisika ini bakal membahas hal-hal non-fisik untuk dibahasakan secara fisik. Sedangkan secara personal, bagi saya belajar metafisika sama dengan memantik naluri keragu-raguan saya akan unsur keberadaan dan ketidakberadaan. Pun, ia menantang saya untuk menemukan makna di balik sesuatu yang bisa saja melampaui aneka ranah yang tampak. Anda bingung? Sama, saya juga kok😝.

Saya pun penasaran dengan siapa pemateri yang akan memandu para peserta menuju kepeningan yang hakiki ini. Usut punya usut, ternyata pematerinya adalah Mbak Dika Sri Pandanari. Jujur saja ya, saya awalnya sempat skeptis kalau pemateri filsafatnya adalah seorang perempuan. Dalam hati, saya seperti meremehkan dan mempertanyakan, apakah seorang perempuan mampu membawakan materi filsafat seberat ini dengan baik? Gila memang sih, saya pun baru sadar kalau saya ternyata punya cara pandang yang se-sexist itu😶.

Tapi faktanya, saya keliru. Saya keliru sekeliru-kelirunya, deh. Mbak Dika ini ternyata sudah punya sepak terjang yang alamak karena dia sudah banyak mengisi kuliah tamu seputar filsafat di universitas seperti UIN, UMM, hingga universitas saya sendiri yakni UM. Dia pun sekarang sedang menempuh pendidikan S2 Filsafat di STF Widya Sasana Malang.

Dan asli, penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Mbak Dika ini gampang banget untuk dicerna dan bisa dibilang amat mengalir. Analogi-analogi yang dipakai pun sederhana dan mudah dimengerti. Seperti saat menjelaskan prinsip kausalitas Aristoteles, yang mana merupakan pembuktian atas sanggahan teori pancaran dunia ide Plato, Mbak Dika cukup menggunakan analogi mie ayam. Kausalitas Aristoteles yang terdiri dari kausa materia, kausa forma, kausa efficientis, dan kausa finalis secara berurutan dijabarkan menjadi bahan mie ayam, bentuk yang menaungi mie ayam, penyebab mie ayam (dalam hal ini penjual), dan tujuan diciptakannya mie ayam (entah itu untuk dimakan atau yang lainnya).

(source)
Selain menjelaskan metafisika klasik yang erat hubungannya dengan Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas (sebenarnya itu baru beberapa dari segelintir, sih), materi dilanjutkan ke perdebatan-perdebatan metafisika modern yang mulai masuk ke ranah Immanuel Kant, Husserl, Heidegger, dan sedikit tentang Marx. Ada pembahasan selintas mengenai Ontologi, Fenomenologi, Kosmologi, dan Dua Mode Ia juga.

Selesai materi, para peserta pun disuguhi sebuah video dari Vice (p.s. I love Vice to the moon and back💖) yang menguak kisah tentang 'the most polluted city on earth'. Kota ini bertempat di Cina dan bernama Linfen. Saking parahnya, bernafas di sana kabarnya sama saja dampaknya dengan merokok sebanyak 3 pack! WellI'm not a freakin' enviromentalist— tapi, melihat betapa edannya efek samping industri batubara di sana bikin saya agak geram juga😐.

Salah Satu Pertanyaan untuk Kelompok dan Bonus Candid Mbak Dika hehe 

Nah, di sinilah para peserta akhirnya dibagi menjadi beberapa kelompok dan disuruh menelaah video ini berdasarkan beberapa pertanyaan metafisika tadi. Sehingga, diharapkan metafisika bisa dijadikan alat untuk mengetahui asal muasal dan substansi dari suatu permasalahan. Kebetulan kelompok saya (Mas Daus Psikologi UMM, Nico IT UB, sama satu lagi mas siapa ya haha maaf lupa😅) kebagian pertanyaan untuk menelusuri dan mendefinisikan hubungan kualitas Aristotelian mengenai problema dalam video. Kalau mau dijabarkan jawaban kelompok saya dan feedback dari Mbak Dika mungkin bakal kepanjangan artikelnya. Jadi, tidak usah saya taruh dalam artikel ini ya? Sebagai gantinya, kalau mau ikut menonton videonya, silahkan putar di bawah ini nih😀.




Kelas Meditasi oleh Falun Dafa

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah 4 sore. Para peserta diperbolehkan untuk ishoma. Selanjutnya, kelas disambung dengan aktivitas meditasi dari sebuah komunitas bernama Falun Dafa. Mbak Dika pun sudah menjelaskan sebelumnya bahwa ia sengaja memilih komunitas ini karena tidak terkoneksi dengan suatu agama mana pun. Kalau pun ada peserta yang tidak bersedia ikut meditasi dengan alasan tertentu juga tidak apa-apa kok. Haha, kalau saya sih malah penasaran ya seperti apa model meditasi yang ditawarkan. Karena saya yang cupu ini memang belum pernah ikut yang begitu-begituan😅.

(source)

Lagi-lagi, dalam mindset sotoy saya, saya mengira bahwa meditasi ini bakal cuma duduk-duduk santuy sambil merem sampai saya akhirnya bakal ketiduran pulas. Namun tak disangka, ternyata meditasi ini malah bikin keringetan juga (hiks😓). Gerakan-gerakannya memang sederhana, tapi diulang-ulang, dan beberapa ada yang ditahan hingga sekitar tujuh menitan. Alhasil, ada satu gerakan yang bikin pundak kiri saya rasanya sampai berat maksimal bak kembali ditumpangi beban-beban nyekripsi kemarin💀.

Tapi syukur deh, saya bisa menyelesaikan semua gerakan dengan (cukup) baik. Soalnya, ada beberapa peserta yang tidak kuat melanjutkan karena merasa mual atau encok di bagian tulang punggung😂. Sang praktisi meditasi pun menegaskan bahwa itu adalah proses pemurnian. Alias tandanya, ada beberapa peserta yang kemungkinan mengalami penyakit namun baru terdeteksi lewat proses meditasi ini. Widih, ngeri-ngeri sedap kan?

(source)
Di pose terakhir, ada instruksi untuk melakukan pose sila ganda nih. Setelah sila ganda, lalu dilanjutkan dengan pose chinyin (kalau penasaran model pose-nya bisa browsing sendiri ya hehe). Nah, ada beberapa peserta juga yang mengaku kesulitan atau bahkan tidak bisa sama sekali mempraktikkan sila ganda ini. Lalu, dengan entengnya si praktisi bilang bahwa itu pertanda peserta itu kebanyakan dosa, sehingga ia tidak mampu mengeksekusi pose sila ganda tersebut. Serentak, kami semua langsung tertawa lepas dong (syukur kalau begitu dosa saya enggak numpuk-numpuk amat😎😏).

Oh iya, kalau mau bergabung dengan komunitas Falun Dafa, bisa banget kok menyambangi mereka di Car Free Day Ijen setiap hari Minggu. Bergabung dengan Falun Dafa pun tidak akan dipungut biaya karena sifatnya adalah kegiatan sosial. Komunitas Falun Dafa sendiri katanya sudah tersebar di 114 negara di dunia. Nanti, para anggotanya tak akan hanya dibimbing untuk meditasi secara raga namun juga dari segi meditasi jiwa. Bagaimana? Tertarik untuk ikut bergabung?


------ TO BE CONTINUED ----- 
Share:

(Impresi Day 1) Kelas Filsafat Dasar LSFD 2019: Pengenalan LSFD dan Pengantar Berfilsafat

(Disclaimer: artikel ini bakal panjang karena saya benar-benar merangkum impresi saya selama kelas berlangsung. So sit back, relax, and enjoy!)

Hi Dialers!

Sudah dua tahun sejak tulisan terakhir saya di blog ini; rasanya rindu sekali! Bukannya tanpa alasan— 2018 and 2019 were the wildest roller coaster rides— mengingat saya bergulat dengan detik-detik akhir perkuliahan disertai dengan aktivitas kerja sambilan pada waktu itu.

Setelah akhirnya wisuda bulan Juli lalu, barulah saya bisa sedikit menghela nafas lega. Kebetulan hingga bulan ini, saya belum melamar pekerjaan ke instansi mana pun😂. Saya masih keasyikan jadi freelancer. Sebodoh amat dengan mereka yang (mungkin dalam hati) nyinyir saya belum juga kerja dengan definisi ngantor di sebuah instansi. Pasalnya, saya mau sejenak 'menikmati kebebasan' ini dulu. Caranya? Mungkin dengan menjajal kegiatan-kegiatan yang belum atau tidak sempat saya ikuti di masa-masa nyekripsi terdahulu.

Salah satunya adalah dengan mengikuti kelas filsafat dasar di sebuah komunitas bertajuk Lingkar Studi Filsafat Discourse (LSFD) Malang. 

(source)

Kelas filsafat dasar ini (sepertinya) diadakan setiap tahun. Sayangnya, di tahun 2018 kemarin saya terlambat mendaftar plus memang tidak ada waktu. Dan buat yang belum tahu, saya ini suka belajar filsafat (meski tidak semua cabang filsafat, ya). Sehingga, keberadaan komunitas ini bagaikan hembusan angin segar bagi saya yang kerap merasa 'sempit' ketika belajar filsafat sendirian. Artian 'sempit' di sini bukan mengarah pada ekstremitas saya pada sebuah ajaran tertentu, namun lebih kepada saya merasa interpretasi saya bakal 'itu-itu saja' kalau saya belajar filsafat sendirian. Mau diskusi dengan teman sekitar pun, tak semuanya sudi meluangkan waktunya bercengkrama tentang hal-hal 'transendental' semacam ini. Alhasil, mengikuti kelas filsafat dasar LSFD senantiasa jadi hal yang masuk ke bucket list saya


Oh iya, alasan lebih jauh kenapa saya berminat ikut kelas ini adalah demi proses belajar filsafat yang lebih sistematis— yakni dengan belajar filsafat dari dasar dan akar-akarnya. For your information, selama ini saya belajarnya selalu random, seperti dari baca Nietzsche lalu tiba-tiba baca Immanuel Kant. Kan pusing. Makanya, dengan ikut kelas ini saya berharap punya pegangan ilmu yang kuat dan tak ambyar ketika belajar filsafat secara mandiri di kemudian hari.

Pendaftaran Kelas Filsafat Dasar LSFD 2019

Pucuk dicinta ulam pun tiba, LSFD membuka pendaftaran kelas tersebut di awal Oktober ini. Biaya pendaftarannya Rp150.000,-. Terdengar mahal memang— tapi bagi saya, itu tidak sebanding dengan sederet 'harta karun' (e.g. ilmu yang berguna, teman-teman baru, pengalaman menarik) yang bakal saya dapatkan nantinya. Toh biaya itu juga sudah termasuk biaya konsumsi di beberapa sesi pertemuan, sertifikat, blocknote, hingga sebuah modul filsafat yang ciamik. Jauh sekali kan dari kata 'merugi'?

Online Form Kelas Filsafat Dasar LSFD 2019

Kelas filsafat dasar LSFD pun akan diselenggarakan secara nomaden di beberapa tempat super artsy seperti Dialectic Gallery dan Semeru Art Gallery. Pokoknya, setelah transfer biaya pendaftaran, langsung saja isi online form yang disediakan dan konfirmasi ke CP agar dimasukkan ke grup. Isi online form-nya adalah permintaan pengisian data diri dan minat seputar filsafat. Kalau pun kalian lagi bokek tapi ngebet ingin ikutan kelas ini, it's no problemo. Sebab biaya kelas ini bisa dibayarkan dengan cara mencicil atau bayar saat pertemuan. Kurang enak bagaimana, coba?

Impresi Pertemuan Perdana


Sorry ya nge-blur hihi

Pertemuan pertama pun dilaksanakan tanggal 18 Oktober pada pukul 7 malam di Sekber LSFD. Tema pertemuannya masih seputar Pengenalan LSFD dan Pengantar Berfilsafat. Kayak reorientasi gitu, deh. Saya tak dinyana merasa beyond excited karena bakal berjumpa dengan teman-teman baru (maklum udah enggak kuliah, jadi semacam kangen suasana ketemu teman-teman gitu huhu😔).

Dalam mindset saya waktu itu, kemungkinan besar yang ikut kelas ini tak lebih dari 10 orang jumlahnya. Dan juga, untuk para peserta mahasiswa, yang ikut mungkin hanya dari golongan jurusan kuliah tertentu seperti teologi, filsafat, sastra, politik, atau ilmu humaniora lainnya saja (prediksi sotoy efek teman main yang kurang jauh😅). Eh ternyata, sesampainya di sana, pesertanya lebih dari 30 orang, tjoy! Sudah begitu, ada juga yang datang dari prodi-prodi tidak terduga seperti Administrasi Bisnis, Ilmu Kelautan, Teknik Mesin, hingga Promosi Kesehatan! Terdapat pula peserta dari jenjang pendidikan SMA dan umum. Keren, kan?

Lucunya lagi, baru kali ini saya jadi 'kaum minoritas'. Sebab di kelas ini— seperti yang sudah bisa ditebak— pengikutnya kebanyakan adalah Kaum Adam. Sementara dulu, di prodi saya (Sastra Inggris) mayoritas isinya adalah Kaum Hawa. Saya sih tidak ada masalah yang bagaimana-bagaimana ya dengan hal ini. Cuma ya begitu, saat pertemuan perdana ini saja, saya bak kehabisan oksigen karena hampir satu ruangan pada merokok semua. Dan sebenarnya, hanya ini sih kendala yang menurut saya bisa dibilang agak mengganggu.

Aktivitas pada Kelas Perdana 

Kelas pun dimulai dengan pengenalan dan sambutan dari beberapa anggota LSFD seperti Mas Ricky dan Mas Rijal. Pada intinya, LSFD adalah sebuah komunitas belajar filsafat di Malang yang juga aktif di media sosial. Diungkapkan bahwa tidak ada yang namanya senioritas atau keterikatan di LSFD karena basisnya sendiri adalah sebuah komunitas. Siapa pun boleh ikut dan bisa belajar bersama. LSFD pun punya banyak agenda selain kelas filsafat dasar ini seperti Ruang Dialektika, acara bedah buku, podcast Youtube, diskusi dan ngaji filsafat, serta masih banyak lagi.


Nah, tak lama setelah pengenalan singkat mengenai LSFD, langsung deh para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk main-main selama dua sesi. Sesi pertama adalah sesi Appreciation Inquiry, di mana setiap kelompok disuruh menuliskan hasil diskusi kelompok dari pertanyaan dream (apa yang ingin dicapai dalam belajar filsafat), discovery (pendapat mengenai belajar berfilsafat), design (metode belajar filsafat seperti apa yang paling disukai) dan cara pengaplikasiannya.

Waktu itu saya satu kelompok dengan dua anak Ilmu Pemerintahan UMM (Nafis dan Bisma) dan satu anak Administrasi Bisnis UB (Wildan). Apakah saya minder sebagai anak sastra sendiri? Tentu tidak, dong. Justru saya highly curious dengan pendapat-pendapat dari mereka, nih. Setelah berdiskusi dan  merangkum pendapat-pendapat kami, we eventually came up with these answers: untuk menambah wawasan baru dan menjadi manusia yang lebih bijak ke depannya berkat perspektif-perspektif luas dari filsafat. Mendengar pendapat dan cita-cita pencapaian belajar filsafat di atas, saya sampai menahan tawa mengingat diri saya yang aslinya tak semulia itu. Ya, tapi tak apalah, namanya juga pencitraan wkwk😂.

Sedangkan untuk pertanyaan design, si Wildan mengusulkan salah satu metode belajar paling unik seantero galaksi Bima Sakti bertajuk SGD (Senam Group Discussion). Metode tersebut isinya adalah sesi diskusi buku-buku filsafat seraya mendengarkan musik lo-fi lalu dilanjutkan dengan aktivitas senam-senam santai. Semacam ngakak sih, tapi boleh juga lah ya😂.

Setelah beberapa menit berlalu, setiap kelompok disuruh presentasi tentang hasil diskusi mereka. Asli, jawaban mereka rata-rata out of the box semua. Ada yang ikut kelas filsafat karena ingin 'tersesat' untuk mendapatkan kebenaran 😂. Ada pula yang menyampaikan design metode belajar filsafat mereka dengan cara belajar sambil minum kopi dan mendengarkan lagu-lagu indie (wetseh 😆).


Sebagus, se-garing, se-kreatif, se-nyeleneh, dan se-tidak umum apa pun jawaban dari sebuah kelompok, kita harus menghargai pendapat mereka dengan cara bertepuk tangan. Boleh menyanggah, tapi tidak dengan menjatuhkan pendapat tersebut. Begitulah instruksi dari Mas Rio sebagai pemateri pada hari itu. Simpel sih, tapi mengena juga di hati karena dewasa ini, banyak orang yang tak mampu menyikapi perihal perbedaan pendapat dengan baik. Padahal, yang namanya perbedaan pendapat adalah hal yang tak bisa dihindari. Dengan begini, sesi ini tak hanya mengundang canda dan gelak tawa bagi semua peserta, tapi juga sebuah pelajaran tentang berapresiasi.

Lanjut ke sesi kedua, masih dalam kelompok yang sama, para peserta dibagikan sebuah kartu yang isinya bisa kosong namun bisa juga mengandung sebuah kata. Lalu, tugas kelompok adalah untuk membuat jokes berdasarkan kata yang didapat tersebut. Kalau kartunya kosong, maka bebas menggunakan kata apa pun. Sialnya, kelompok kami dapat kartu yang di dalamnya terdapat tulisan 'induktif''.

Dang! Di situ saya baru sadar kalau kata yang ditulis di beberapa kartu pasti ada hubungannya dengan filsafat. Kelompok saya sempat bingung karena ternyata kami berempat adalah anggota setia partai humor receh. Tapi tidak apa-apa, untungnya kami bisa mengeksekusi jokes kami meski ia tidak lucu-lucu amat😅. Yang terpenting, Mas Rio bilang bahwa tujuan dari sesi kedua ini ialah agar para peserta tidak tegang mempersiapkan diri belajar filsafat atau belajar berfilsafat. Proses belajar filsafat tentunya harus dimulai dengan perasaan yang fun. Dan dibuktikan dari kebahagiaan para peserta di malam itu, seharusnya tujuan tersebut bisa dinyatakan berhasil.

Kopi Selalu Tersedia 
Selesai dari situ, diumumkan bahwa esok harinya akan dilaksanakan kelas residensi selama dua hari ke depan berturut-turut. Durasinya per hari dimulai dari pukul 1 siang hingga pukul 9-10 malam. Beruntung saya memang lagi tidak ada kerjaan yang bagaimana-bagaimana; jadi ya, saya oke-oke saja dengan durasi tersebut. Tujuan kenapa durasi kelas residensi ini terbilang cukup lama adalah karena memang kelas ini berguna untuk drilling materi-materi dasar filsafat seperti metafisika, estetika, epistemologi, logika, dan etika. Selama kelas residensi juga bakal diselingi dengan kegiatan meditasi yang praktisinya didatangkan dari sebuah komunitas meditasi lintas agama. Asyique!😍

Secercah Kesimpulan tentang Kelas Perdana

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari kelas perdana ini adalah: ternyata saya tidak sendirian. Terlepas dari perbedaan minat dari para peserta dalam mempelajari filsafat, entah itu karena memang suka atau hanya iseng-iseng belaka saja, saya merasa akhirnya saya bisa berjumpa dan belajar bersama sesama orang-orang yang 'tersesat' ini. Dari pertemuan ini juga, saya mendapat disclaimer bahwa nantinya dalam proses belajar ini, saya harus sadar akan etika saling menghargai pendapat plus jangan terlalu tegang biar tidak stres😋.

Oke, sampai di sini dulu ya impresi day 1 dari kelas filsafat dasar LSFD 2019 ini. Maaf kalau tidak banyak dokumentasi foto karena waktu itu terlalu bersemangat sampai lupa mau ambil foto haha. Untuk pengalaman dan cerita keseruan saat kelas residensi, saya akan membeberkannya di artikel selanjutnya. Alhasil, terima kasih sudah membaca ya! Semoga bermanfaat!
Share:

Tuesday, October 22, 2019

Tahu Campur Langganan: A Story of Quarter-Life Crisis

(Disclaimer: artikel ini tidak akan membahas definisi dan teori tentang Quarter Life Crisis secara gamblang, melainkan lebih kepada refleksi penulis akan krisis tersebut. Enjoy!)


Hari ini seharian hujan. Maklumlah, ini bulan November: bulan di mana ada banyak teman yang berulang tahun, namun suasananya tetap gloomy, karena langit senantiasa terlukis oleh barisan para mega mendung. Dan entah bagaimana, menurut saya hari ini adalah salah satu hari perkuliahan yang paling absurd. Saya tidak mau membeberkan alasannya, tapi cukuplah saya memberinya label sedemikian rupa. Saya masuk kuliah sekitar jam delapan pagi dan perkuliahan selesai pada jam lima sore: inilah yang saya sebut dengan rutinitas sehari-hari. Tapi ternyata, jam terakhir perkuliahan hari ini kosong. jadilah saya diajak berkaraoke oleh seorang teman perempuan saya. 

Kami pun hanya berkaraoke selama satu jam. Lepas itu saya mengantarkan teman saya tersebut pulang dan menumpang untuk salat Maghrib di rumahnya. Dan tak lama, saya sudah kembali berada di jalanan, dengan tangan kanan memaju-mundurkan gas sepeda motor dalam keadaan co-pilot alias setengah sadar. Menerpa dinginnya udara malam sambil berpikir keras untuk mengisi perut dengan menu makanan apa. 

Ilustrasi tahu campur (source)

Awalnya benak saya mengatakan untuk makan sate ayam saja. Namun entah kenapa, saya malah spontan berbelok ke sebuah warung tahu campur di daerah Sawojajar, yang mana dahulu merupakan tempat makan langganan keluarga. Demi apa, saya tidak pernah sekalipun makan di sana sendirian; saya selalu makan di sana bersama kedua orang tua dan adik lelaki saya. Saya tak akan bisa lupa kebiasaan ayah saya yang selalu memesan tahu campur dengan tulang muda. Sedangkan ibu saya selalu tidak mau pakai menyok (perkedel singkong) dan minta tambah petis. Kalau adik saya, ia tidak makan tahu campur tapi dipesankan sate ayam di warung sebelahnya, soalnya dulu ia masih kecil. 

Ya, sudah sangat lama saya tak mampir kemari semenjak perceraian orang tua saya enam tahun silam.  

Saya akhirnya memberanikan diri untuk memesan pada si penjual— yang ternyata juga sudah turun generasi. Bila dahulu si penjual adalah seorang bapak-bapak ramah yang memanggil saya dengan sebutan 'si pesek' (si hidung tak mancung), kini posisi penjual tersebut sudah digantikan oleh anak beliau. 

Sebagian perasaan saya merasa senang, karena saya jadi tidak perlu basa-basi menjawab pertanyaan tentang bagaimana keadaan orang tua saya dan kenapa kami tidak pernah ke sini lagi bersama-sama. Namun begitu, sebagian perasaan saya juga merasa sedih, karena unsur nostalgia yang saya cari di warung ini jadi tereduksi. Tanpa saya sadari, dunia seketika menjadi lebih 'dingin'. Segalanya serentak terasa baru, asing, dan menyesakkan. 

Kala duduk menunggu pesanan datang, saya belum mengalami momen keruntuhan mental yang berarti. Namun, sesudah pesanan datang dan saya mengambil sebungkus kerupuk untuk dipatahkan jadi dua, tiba-tiba kedua mata saya terasa berat sekali. Saya ingat ibu saya yang selalu melakukan hal itu untuk memudahkan saya mencelupkan kerupuk tersebut pada kuah tahu campur. Baru saat itu, saya makan dengan hati bak teriris sembilu. 

Sepulang dari warung tahu campur, saya menyetir dengan pikiran yang lebih berkecamuk. Kendati sebenarnya, saya sudah muak mempertanyakan hal-hal tersebut. Tentang bagaimana saya mau tidak mau harus mengakui derasnya arus perubahan, menerima baik-buruknya takdir, berpuasa mengutuk dan berhenti mencari kambing hitam— singkatnya, menjalani dongeng-dongeng kebajikan tentang beranjak dewasa.


Hi, Dialers!

Saya baru ingat kalau kisah tersebut saya tulis di tahun 2017. Dia sudah mangkrak di draft, dan saya benar-benar lupa kalau pernah menuliskannya di sini. Saya ingat kala itu, sesampainya di rumah, saya langsung menulis cerita tersebut lantas pergi tidur (kebiasaan mutlak saya kalau sedang sedih). Faktanya, setelah saya baca ulang, saya masih bisa merasakan dan terhanyut dalam kesedihan itu. Seakan-akan, kejadian tersebut masih baru terjadi kemarin. 

Kendati begitu, saya lega kejadian itu pernah hadir, dan sejatinya ia juga telah berlalu.

Mungkin, kesedihan di hari itu bisa begitu mendayu karena efek cuaca dan galau belum dapat judul skripsi. Di awal usia kepala dua, saya nampaknya mulai terjangkit virus mengerikan Quarter Life Crisis. Ya, tak usah menunggu sampai momen lulus kuliah, pontang-panting mencari kerja, atau saat mulai panik ditanya 'kapan nikah?' datang, saya pun sudah bisa diserang oleh krisis bajingan tersebut. Krisis di mana saya mulai beranggapan bahwa seakan menjadi dewasa sama halnya dengan 'berhenti meminta bantuan'. 

(source)

Adapun yang bisa saya katakan saat ini mengenai keadaan tersebut adalah 'It's okay. You're not the only one experiencing this shitty phase. You'll manage to get through.' 

Pasalnya, saya ingat waktu dini harinya, saya tiba-tiba terbangun dan malah mendapat ide untuk mengangkat krisis ini sebagai tema skripsi saya. Saya memang tidak secara eksplisit mengambil tema itu, sih. Tapi masih erat lah kaitannya karena mengacu pada karya sastra yang memuat nilai psikologi perkembangan ala emerging adult. Jika diingat lagi, krisis tersebut malah jadi berkah juga ya?

Saya pun bersyukur saya sudah mengenal istilah krisis ini sejak dua tahun yang lalu. Padahal, krisis tersebut nampaknya baru santer diperbincangkan baru tahun-tahun ini di Indonesia. Tak percaya? Coba deh browsing. Artikel dalam negeri yang membahas isu ini rata-rata baru dipublikasikan di tahun 2019. Mungkin karena semakin kemari, semakin timbul kesadaran bahwa pergeseran nilai zaman amatlah berpengaruh dalam ganasnya proses 'penggerogotan' yang dilakukan krisis ini. 

Terlepas dari pengalaman Quarter Life Crisis saya di atas yang tidak melibatkan gadget, perlu diakui bahwa peran gadget acap kali disinggung sebagai salah satu pemicu utama sang krisis di era sekarang. Era media sosial yang lekat dengan budaya 'pamer dan membanding-bandingkan nikmat hingga kesengsaraan hidup' memang sangatlah melelahkan mental. 

(source)
Namun kembali lagi, apa pun yang memicu Quarter Life Crisis-mu, tak ada pilihan lain selain harus tetap bangkit dan berjalan.

Bahkan walau semua itu ditunaikan dengan tanpa makna atau tanpa alasan. Karena siapa tahu, sang makna memang ingin untuk dimenangkan— bersembunyi dan menunggu untuk berjumpa di balik segala rupa rasa resahmu. Atau bahkan, lupakan saja misi menjemput makna itu. Tetaplah bangkit dan berjalan hingga sang makna yang kelak kan menjemput dan memenangkanmu.
Share:

Wednesday, November 8, 2017

My Selfies and The So-Called 'Das Ding An Sich' (In My Super Oversimplified Viewpoint)

Hai, Dialers!

Sebenarnya sudah lama saya hendak menulis tentang hal ini, tapi pada faktanya baru terlaksana sekarang hehe. Di artikel kali ini, saya ingin menulis tentang sebuah konsep pemikiran filsuf yang menurut saya— sekali lagi, menurut saya lho ya— exceedingly outstanding. Kenapa? Pasalnya konsep ini dapat menjawab salah satu pertanyaan 'gak jelas' saya yang sudah lama ingin saya cari jawabannya. Namun begitu, saya tidak pernah mencoba menanyakan pertanyaan ini pada orang lain karena takut mendapat jawaban yang tak memuaskan. So, what's the question? Simpel kok: kenapa ya setiap kali hendak berfoto selfie dengan kamera depan, hasil penampakan diri saya di layar sebelum tombol shutter dipencet tidak sama dengan setelah tombol shutter dipencet? Jadi, bila sebelumnya wajah atau penampakan fisik saya nampak buruk/baik di layar (e.g., pipi nampak lebih tirus, tinggi badan nampak pendek), lalu pas sudah pencet tombol shutter, hasil foto yang keluar malah justru sebaliknya.

selfie doeloe yuk (source)
Wkwk, enggak, ini bukan masalah angle, efek filter, atau pencahayaan kamera. Ini juga bukan efek saya terjangkit virus narsisme atau krisis kepercayaan diri (apalagi efek gara-gara saya tidak memakai make-up). Problema seperti ini bisa terjadi bahkan ketika kita berfoto tanpa polesan riasan apapun. Dan menurut saya, ini adalah pertanyaan yang pasti pernah terselip di benak siapa saja, alias tidak terlimitasi pada benak para Kaum Hawa saja. Kendati begitu, pertanyaan seperti ini dianggap terlalu trivial dan tak membutuhkan jawaban berarti. Padahal kalau sudah tahu jawabannya, Ia dijamin akan sedikit banyak mempengaruhi pola pikir kita dalam menilai sesuatu, utamanya dalam hal menilai diri kita sendiri.

Ya, pada dasarnya pertanyaan tadi dapat terjawab melalui konsep pemikiran Immanuel Kant yang bertajuk 'Das Ding An Sich'. Diambil dari Bahasa Jerman, frasa tersebut kurang lebih memiliki makna 'benda-dalam-dirinya-sendiri'. Gampangnya begini: bahwa penampakan objek bukanlah objek. Bahwa kita hidup dalam dunia yang sudah dibumbui lapisan-lapisan konsepsi (phenomenal world). Bahwa apa yang kita lihat bukanlah selalu apa yang sebenarnya sejati. Penglihatan (penginderaan) kita terhadap sesuatu bergantung pada hasil proyeksi 'kacamata' yang kita pakai.

Immanuel Kant (source)
So, kembali lagi pada pertanyaan seputar selfie yang tak sesuai ekspektasi, maka menurut teori Kant tersebut jawabannya adalah: kita adalah makhluk yang melihat apa yang ingin kita lihat (in this light, pada diri kita). Jika dari sudut pandang kita, fisik kita nampaknya memiliki fitur A— maka bukan tidak mungkin  ketika diabadikan di kamera, fisik kita justru menampilkan fitur A layaknya fitur A' (A aksen). Namun benarkah bahwa pandangan kita mengenai diri kita sendiri itu selalu salah (karena dipengaruhi oleh persepsi dan subjektivitas)? Apakah hasil yang diabadikan dan diperlihatkan oleh kamera selalu merefleksikan kebenaran yang hakiki?

Well, menurut Kant, toh tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Selama kita masih melihat hasil foto itu dengan mata kepala kita sendiri, kita masih perlu mempertanyakan kebenaran penampakan objek tersebut.
We simply don't possess any knowledge of what might be seemed as the sensible truth in us, for we, to be perfectly honest, are unknowable.
Nah, sekarang bandingkan dengan gambaran yang lebih besar soal bagaimana kita memandang diri kita. Bukan sekedar dari segi fisik, tapi dari segi sifat hingga kepribadian. Kalau menurut diri kita sendiri mungkin kita adalah orang yang baik, maka belum tentu di mata orang kita berwujud sama. Namun lagi-lagi, orang tersebut juga belum tentu benar, karena Ia juga melihat kita lewat persepsi-persepsi yang Ia miliki (ya keles, kan masih sama-sama manusianya, masih sama-sama subjektif).

Ya terus bagaimana, dong?

Ya pokoknya jangan salahkan kamera depan ponsel kalian kalau hasil selfie kalian jelek. Sebaliknya juga, jangan memuja kamera kalian kalau hasil foto kalian ternyata lebih baik dari apa yang sebelumnya terlihat di layar. Terapkan pula hal ini pada orang-orang yang menilai kita di luar sana.

Serta jangan punya pikiran yang sempit seakan kalian memang benar-benar sudah mengenali diri kalian lebih dari siapapun. Habisnya, siapa yang benar-benar tahu kalau kita ini memang benar-benar bermata dua dan berhidung satu?
Share:

Friday, June 30, 2017

Salahkah Menjadi Seseorang yang Pesimis?

“Turning and turning in the widening gyre
The falcon cannot hear the falconer;
Things fall apart; the centre cannot hold;
Mere anarchy is loosed upon the world,
The blood-dimmed tide is loosed, and everywhere
The ceremony of innocence is drowned;
The best lack all conviction, while the worst
Are full of passionate intensity.” 

(The Second Coming, W.B. Yeats, The Collected Poems of W.B. Yeats)


Hai, Dialers!

Sebagai pembukaan, saya memang ingin memakai penggambaran topik yang bersifat dramatis (wkwk). Yap, The Second Coming adalah sajak Yeats yang menangkap kondisi miris masyarakat Irlandia pasca Perang Dunia I. Bagaimana tidak, baru saja selesai PD I, masyarakat Irlandia pun masih harus kembali merasakan pahitnya gejolak perang lewat Irish War of Indepedence. Pantas saja puisi karya Yeats ini begitu 'menyentuh' konsep pemikiran seseorang yang tanpa harapan. Thus, saya lantas meminjam karya pujangga putra Irlandia tersebut sebagai ilustrasi atas 'seperti apa sih rasanya menjadi seseorang yang pesimis'.


Menurut KBBI, seseorang yang pesimis memiliki definisi sebagai 'orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis) harapan'. Sedangkan menurut Wikipedia, pesimisme adalah paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat. Bahkan, untuk filsuf sekelas Nietzsche, Ia membawa rasa pesimis-nya pada level yang jauh lebih tinggi dengan menciptakan pandangan filosofi nihilisme— yakni paham bahwa segala aspek di dunia ini pada dasarnya tak ada gunanya. Ibaratnya, hidup ini diciptakan dengan tujuan tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mati.

Hm, pathetic juga ya? Mayoritas khalayak pun acap kali memberi label bahwa pesimisme adalah hal yang condong negatif. Padahal, saya memiliki pendapat yang cukup berbeda dari yang sudah tertulis di atas. Memang saya bukanlah Spongebob Squarepants yang setiap hari berangkat ke Krusty Krab dengan mood penuh sukacita. Sebaliknya, sehari-hari saya adalah Squidward— yang mana kerap melangkah keluar dengan gontai dan cenderung skeptis melihat kehidupan orang lain di sepanjang jalan.

Sekalipun begitu, pesimisme sudah saya anggap sebagai salah satu sahabat terbaik yang saya miliki. Yup, kurang lebih dia adalah sumber penyedia rasa nyaman dalam hidup saya. Iya sih, come to think of it, pesimisme memang sarat akan jurus membohongi perasaan. Akan tetapi, nilai moralitas 'membohongi' ini relatif untuk sebagian orang. Kalau dalam opini saya, sesuai dengan cara saya menyikapi pemikiran ini, tujuan 'membohongi' ini sebenarnya baik.

image source

Let's take a look at some positive intrapersonal effects gained from being a legit pessimist.
 Jadi pada dasarnya, pesimisme ini ada tiga macam kategori: Explanatory Pessimism, Strategic Pessimism dan Pessimistic Bias. Penganut Explanatory Pessimism percaya pada pemikiran bahwa hal buruk yang terjadi dalam hidup ada hubungannya dengan kesalahan mereka atau faktor eksternal yang tak dapat diubah. Intinya, bila tertimpa nasib buruk maka mereka seperti tidak punya harapan lagi untuk mengubahnya (saya jadi teringat pada paham fatalisme).

Selanjutnya ada Strategic Pessimism, yakni jenis pesimisme yang dipakai sebagai strategi penghilang anxiety. Caranya ialah dengan menurunkan level ekspektasi sembari menyusun rencana untuk mengatasi worst-scenario outcome(s). Baru lanjut ke jenis terakhir, terdapat yang namanya Pessimistic Bias. Ia agak mirip dengan Explanatory Pessimism namun lebih menekankan pada keyakinan bahwa no matter what you do, Dewi Fortuna tak akan pernah berpihak di sisimu.

image source
Nah, kalau saya sih jujur saja akrab dengan paham Strategic Pessimism. Pasalnya, saya memakai pesimisme jenis ini sebagai pil penenang untuk menghadapi rasa cemas menunggu sebuah hasil. Siapapun tak akan menyangkal kalau berharap tinggi-tinggi itu akan menyebabkan kejatuhan yang bukan kepalang sakitnya. Maka dari itu, baiknya saya tidak muluk-muluk dalam berekspektasi. Saya berusaha untuk mengaplikasikan sikap qana'ah alias mensyukuri hasil (mau seburuk apapun hasil yang didapat). Inilah yang agak bertolak belakang dengan para optimist, yang most likely tidak siap dengan hasil yang tak memuaskan. Tak heran pada tahun 2011, ada sebuah riset yang diikuti oleh 250 pasangan dan diterbitkan di the Journal of Personality and Social Psychology, yang mengatakan bahwa— orang yang terlalu optimis akan lebih kesulitan dalam memerangi stres.

Sejatinya, pesimisme semacam Strategic Pessimism-lah yang membuat kita menjadi lebih aware, lebih rasional dan tak hanyut dalam semunya angan kebahagiaan. Dengan begini dapat dikatakan bahwa kunci ketenangan batin bisa didapat dari pemilihan paham pesimisme yang tepat. Nah, I don't insist you to be a full-time pessimist. Cuma terkadang, pesimisme itu diperlukan demi keseimbangan mental seseorang yang lebih matang.

So, salahkah menjadi seseorang yang pesimis? Meh, I don't think so.

Referensi:
http://lifehacker.com/the-benefits-of-pessimism-1620150406  
Share:

Saturday, May 27, 2017

Memori dan Rindu (It's not a scientific article but rather a free writing product of mine)

Kali ini, saya sedang ingin mengutarakan betapa saya membenci (lagi) saat-saat ketika saya terlalu aktif memikirkan hal-hal yang tak seharusnya dipikir (atau setidaknya itu menurut pandangan sempit saya). Contohnya, saat saya tengah terjaga di malam hari tanpa ada kesibukan yang berarti, saya mempunyai tendensi untuk berpikir mengenai hal yang aneh-aneh. Pikiran-pikiran liar pun melayang-layang dengan naif-nya di udara— saya bahkan bisa berpikir tentang hal super random seperti alkisah ada seseorang yang bunuh diri dengan gantung diri di langit-langit rumahnya. Sebenarnya, Ia sempat hendak berubah pikiran namun tanpa sengaja, kursi yang menahannya tersenggol oleh kakinya sendiri karena Ia terlalu gemetar (oh man). 

Nah, ada satu lagi hal yang menurut saya adalah pemikiran yang tidak penting— yang kerap kali menyiksa— namun selalu datang di saat-saat yang kosong: rindu.

Menurut definisi KBBI, rindu merupakan sebuah kata adjektiva yang berarti 'sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu' atau juga 'memiliki keinginan kuat untuk bertemu'. Bagi kebanyakan orang, rindu pun dialamatkan sebagai salah satu bentuk perasaan cinta terdalam terhadap seseorang. Namun entah kenapa, bagi saya, apabila ditinjau secara logika, rindu toh hanyalah efek samping dari kepalsuan memori. 

Well, ada sebuah kutipan dari mendiang Albert Einstein yang berbunyi
"Memory is deceptive because it is colored by today's events". Yap, kutipan di atas bagaikan sebuah wake-up call bagi saya yang kebetulan tidak mempunyai kelebihan bertajuk 'memori fotografi'. Saya seakan tersadar betapa polosnya saya untuk senantiasa terbuai dalam rindu berkepanjangan akibat detail memori yang rancu.



image source

Memori mengenai seseorang/sesuatu sejatinya akan sangat dipengaruhi oleh aneka konteks dan persepsi. Dan yang lebih menyedihkan, memori yang seharusnya lekat dengan imej objektif justru faktanya tidak bisa lepas dari yang namanya emosi. Hal ini akan menjadi lebih sensitif lagi apabila memori tersebut terkait dengan seseorang yang mempunyai dampak signifikan terhadap hidup kita, contohnya seperti memori mengenai seseorang yang kita cintai maupun memori akan seseorang yang kita benci. Pasalnya, memori tersebut mayoritas sudah terkontaminasi oleh hal-hal personal seperti perasaan dan sudut pandang kita akan orang tersebut. Masih ada pula konteks-konteks yang lainnya seperti keadaan mental kita di masa kini, keadaan mental kita di saat memori tersebut terekam maupun adanya informasi eksternal dari pihak ketiga.

Rindu jadi ibarat sebuah toksin yang dihasilkan dari kumpulan zat bias. 

Inilah yang membuat saya jadi kaku setiap mengekspresikan rindu. Kepada orang-orang yang saya kasihi, sebenarnya saya kerap merasa bersalah karena tidak mampu mentransmisikan rasa 'putus asa ingin bertemu' saya ini secara gamblang nan tulus. Pada akhirnya saya cuma bisa menyakiti perasaan mereka yang tak kalah halusnya dengan lembaran benang sutra. Ya, doakan saja semoga di kesempatan selanjutnya saya bisa jadi lebih baik lagi dalam hal mencinta dan dicintai.

Share:

Friday, February 3, 2017

#BedahLirik: Green Eyes (Coldplay)

Oke, sekali lagi harus saya akui kalau bicara masalah selera musik, saya tergolong yang secara konsisten selalu bergerak mundur (in terms of time) (pertanda orang yang susah move on wkwk). Kalau boleh jujur, saya jarang sekali tertarik dengan lagu-lagu generasi Z yang dipenuhi musik bergenre EDM dan sebangsanya. Dan bagi saya, kalau disuruh untuk memilih era kejayaan musik secara personal, saya tentu tanpa pikir panjang akan memilih era early 90s hingga early millenium. Entah mengapa, menurut saya, banyak lagu dari era tersebut yang mempunyai spirit yang muda namun tak bernada urakan alias sarat akan makna. Contohnya, di Indonesia ada Sheila On 7 hingga di Inggris terdapat Oasis dan Radiohead.

Hal ini tentu tidak sama dengan mayoritas lagu yang diproduksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yang mana cenderung mengangkat lirik dengan rangkaian kata kotor hanya agar terlihat keren dan kekinian belaka. Sudah begitu, kebanyakan melodinya bagi saya terdengar palsu, karena pada umumnya mengandalkan tambahan bantuan efek suara yang berlapis-lapis jumlahnya. Alhasil, lagu-lagu tersebut tidak bisa abadi dan amat mudah terlupakan setelah muncul lagu-lagu baru berjenis sama di pasaran.

Di sinilah mengapa saya bertahan dengan musik-musik lawas. Sebab, dengan segala kesederhanaannya, mereka tetap mampu bertahan di hati para penikmatnya dan tak lekang digerus oleh derasnya sang arus perubahan.

image source

By the way
, saya selalu menggemari lagu-lagu alternatif — atau lebih spesifiknya — musik alternatif yang berbau britpop — tak terkecuali pada musik sekaliber Coldplay yang hanya dengan sekali mendengarkan lagu-lagunya saja saya akan langsung terbuai. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena saya suka lagu lawas, maka saya lebih cenderung menyukai lagu-lagu Coldplay keluaran lama, yakni yang dimulai dari EP "The Blue Room" hingga album "X&Y" saja. Di album "Viva La Vida" pun saya hanya menyukai dua buah lagu, yaitu '42' dan 'Lost!'.

Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin fokus membahas sebuah lagu berbau serenade yang diciptakan Coldplay pada album "A Rush of Blood to the Head ". Lagu berdurasi 3 menit 43 detik itu pun diberi judul 'Green Eyes'. Hihi, barangkali bagi masyarakat Indonesia, sekalinya mendengar frasa bernada green eyes, yang langsung terbesit di pikiran mereka ialah sosok seseorang yang materialistis (mata ijo = mata duitan lol). Padahal bagi saya, ketika mendengar frasa green eyes, saya akan seketika teringat dengan sebuah lagu easy-listening yang ditelurkan oleh Coldplay pada tahun 2002 tersebut.

image source

Meski di sepanjang lagu Ia hanya mengandalkan permainan gitar akustik sederhana, namun justru di situlah daya tarik utamanya. Kekuatan lagu ini terletak pada barisan liriknya yang jujur nan tulus, yang mana merupakan alasan kenapa lagu ini dapat menggoreskan kesan cukup mendalam pada sanubari kecil saya.

Lucunya, lagu ini bukanlah lagu yang langsung saya gemari setelah mendengarkannya untuk pertama kalinya. Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa lagu ini begitu hopelessly romantic and simultaneously beautiful in its own way. Saya pun tidak sendiri dalam menilai bahwa lagu ini pantas disebut sebagai salah satu lagu kebanggaan Coldplay. Faktanya, lagu ini masuk pada pada jajaran lagu terbaik Coldplay sepanjang masa versi para kritikus via Billboard.

Tak hanya itu, lagu ini pun sampai dinyanyikan ulang oleh musisi country asal Amerika, Aubrie Sellers, dengan model aransemen yang lebih smoky namun tetap menawan hati. 'Green Eyes' juga dipercaya untuk dilantunkan pada acara pernikahan pasangan desainer Katy dan Phil hingga menjadi lagu dansa pertama pada pernikahan mereka, lho (#UhhSoSweet!).

Jadi, se-romantis apa sih lirik dari lagu Coldplay yang satu ini? Yuk langsung saja kita simak,

Lirik

Honey you are a rock
Upon which I stand
And I come here to talk
I hope you understand

The green eyes, yeah the spotlight, shines upon you
And how could, anybody, deny you
I came here with a load
And it feels so much lighter now I met you
And honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes

Honey you are the sea
Upon which I float
And I came here to talk
I think you should know

The green eyes, you're the one that I wanted to find
And anyone who tried to deny you, must be out of their mind
Because I came here with a load
And it feels so much lighter since I met you
Honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes, green eyes
Oh oh oh oh [x4]

Honey you are a rock
Upon which I stand

Terjemahan Lirik (Rough Translation)

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri
Dan aku datang kemari untuk bicara
Semoga engkau mau mengerti

Mata yang hijau itu, ya sorot cahayanya, menyinarimu
Dan bagaimana bisa, ada seseorang, yang mampu menolak pesonamu
Aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan kini beban itu terasa jauh lebih ringan, setelah ku bertemu denganmu
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu

Sayangku, kau adalah lautan
Yang menjadi tempatku mengapung
Dan aku datang kemari untuk bicara
Kurasa engkau harus tahu (memahaminya)

Mata yang hijau itu, engkaulah yang telah kucari selama ini
Dan siapapun, yang mampu mencoba menolak pesonamu, pastilah tak waras adanya
Karena aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu, mata yang hijau itu
Oh oh oh oh [x4]

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri

Makna lagu

Pada dasarnya, menurut yang dilansir oleh Rolling Stone, lagu ini ditulis sebagai bentuk tribute dari Coldplay pada Johnny Cash yang sebenarnya hendak berduet dengan Coldplay namun tak terlaksana karena beliau terlanjur menghadap pada Yang Kuasa. Selain itu, apabila ditinjau dari judulnya, lagu ini nampaknya juga ditujukan dan diciptakan untuk kekasih yang dicintai oleh sang penulis.

Yang membuat lagu ini berbeda dari serenade pada umumnya ialah rasa otentik liriknya — in other words, yakni kemurnian cinta yang ditumpahkan oleh sang penulis lagu di dalam lagunya. Sang penulis faktanya tanpa basa-basi menyatakan kekagumannya akan sang kekasih. Bukan pada kemolekan tubuhnya atau pun kecantikan paras wajahnya, melainkan hanya pada warna matanya yang hijau nan jernih. Ini menandakan bahwa sang penulis lagu benar-benar mencintai sang kekasih secara apa adanya, sebab kala memikirkan sang kekasih, Ia hanya terpikir akan kesejukan mata sang kekasih, bukan yang lainnya.

image source

Lagu ini pun saya rasa dibuat oleh sang penulis untuk meyakinkan kekasihnya agar Ia tak meragukan dirinya sendiri. Kemungkinannya sih, sang kekasih memang sedang dalam keadaan ingin putus karena merasa dirinya 'kurang pantas' untuk si penulis. Padahal sebaliknya, si penulis justru menganggap kekasihnya tersebut sebagai pijakan utama hidupnya agar Ia tetap bisa berdiri tegak dan tak tenggelam ke dasar palung penderitaan. Bahkan, sang penulis sampai dua kali menyebutkan kalimat 'and I come here to talk' , yang mana berarti sang penulis tak henti-hentinya berusaha guna membuat sang kekasih sadar akan keistimewaan yang dipunyainya.

Hal ini pun persis didukung oleh perspektif berikut ini: green eyes pada dasarnya merupakan jenis warna mata yang lebih langka ketimbang warna mata lainnya seperti coklat, biru, maupun hitam. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa lagu ini memiliki referensi akan sosok kekasih sang penulis yang memiliki suatu keunikan yang tak didapat pada orang lain. Bahkan, penggalan lirik 'And anyone who tried to deny you, must be out of their mind' pun menegaskan bahwa menurut sang penulis, siapapun yang tidak menerima keberadaan kekasihnya karena kekasihnya 'berbeda' tentulah akan merugi dibuatnya. Oh iya, perspektif ini saya temukan pada kolom komentar halaman lirik lagu 'Green Eyes' pada situs Songfacts. Komentar tersebut ditulis oleh seseorang yang bernama  Elizabeth. I may not know her, but I can't agree more with her perspective. Nevertheless, it is such a wonderful interpretation, isn't it?

Selebihnya, menurut saya, lagu ini merupakan perwujudan rasa syukur dan rasa terima kasih sang penulis terhadap keberadaan kekasihnya di dunia ini. Pasalnya, setelah Ia bertemu dengan sang kekasih, segala beban hidup dan bayang-bayang permasalahan seakan runtuh dan perlahan memudar. Dan sebaliknya, apabila sang kekasih nantinya pergi meninggalkannya, besar kemungkinan Ia tak akan bisa meneruskan hidupnya sebaik seperti saat Ia masih bersamanya.

image source

Well, saya bukanlah seseorang yang memiliki manik mata berwarna hijau. Akan tetapi, saya dijamin akan tetap melting bila ada seseorang yang menyanyikan lagu ini untuk saya (uhuk, #kode keras).

Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa pada kesempatan konser tur "A Head Full of Dreams" di St. Louis, masih ada saja audiens yang meminta agar lagu ini dinyanyikan oleh Chris Martin. Akhirnya, Chris pun menyanyikan lagu ini setelah bertahun-tahun tak melantunkannya secara live di depan para fans. Mengetahui kenyataan indah sekaligus pahit tersebut, dalam hati saya hanya bisa berkata: Oh, I really wish I was there listening to that miracle :(

Alright, rampung sudah sesi #BedahLirik lagu 'Green Eyes' ala Coldplay yang memang mantap jiwa ini. Pokoknya, bagi kalian yang sedang merencanakan untuk rekonsiliasi bersama pacar kalian yang lagi ngambek atau hendak menembak gebetan, lagu ini akan menjadi pilihan yang paling tepat nan paling sempurna. Akhir kata, sampai jumpa di sesi #BedahLirik yang berikutnya!



*Ini audio version dari lagu ini di Youtube, folks. Selamat mendengarkan!



*Oh yea, and this is me trying to cover this song on Smule :) Feel free to check 'em out! ⟶ https://www.smule.com/recording/coldplay-green-eyes-instrumental/926014419_989665284

Referensi

http://www.azlyrics.com/c/coldplay.html
http://www.billboard.com/articles/columns/rock/7542025/coldplay-songs-top-hits
http://www.rollingstone.com/country/news/see-aubrie-sellers-cover-coldplays-green-eyes-w462051
http://styleblueprint.com/charlotte/everyday/carolina-wedding-riverwood-manor/
http://www.speakersincode.com/2016/07/concert-review-photos-coldplay-at.html
http://www.songfacts.com/detail.php?lyrics=3281
Share: