Saturday, May 27, 2017

Memori dan Rindu (It's not a scientific article but rather a free writing product of mine)

Kali ini, saya sedang ingin mengutarakan betapa saya membenci (lagi) saat-saat ketika saya terlalu aktif memikirkan hal-hal yang tak seharusnya dipikir (atau setidaknya itu menurut pandangan sempit saya). Contohnya, saat saya tengah terjaga di malam hari tanpa ada kesibukan yang berarti, saya mempunyai tendensi untuk berpikir mengenai hal yang aneh-aneh. Pikiran-pikiran liar pun melayang-layang dengan naif-nya di udara— saya bahkan bisa berpikir tentang hal super random seperti alkisah ada seseorang yang bunuh diri dengan gantung diri di langit-langit rumahnya. Sebenarnya, Ia sempat hendak berubah pikiran namun tanpa sengaja, kursi yang menahannya tersenggol oleh kakinya sendiri karena Ia terlalu gemetar (oh man). 

Nah, ada satu lagi hal yang menurut saya adalah pemikiran yang tidak penting— yang kerap kali menyiksa— namun selalu datang di saat-saat yang kosong: rindu.

Menurut definisi KBBI, rindu merupakan sebuah kata adjektiva yang berarti 'sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu' atau juga 'memiliki keinginan kuat untuk bertemu'. Bagi kebanyakan orang, rindu pun dialamatkan sebagai salah satu bentuk perasaan cinta terdalam terhadap seseorang. Namun entah kenapa, bagi saya, apabila ditinjau secara logika, rindu toh hanyalah efek samping dari kepalsuan memori. 

Well, ada sebuah kutipan dari mendiang Albert Einstein yang berbunyi
"Memory is deceptive because it is colored by today's events". Yap, kutipan di atas bagaikan sebuah wake-up call bagi saya yang kebetulan tidak mempunyai kelebihan bertajuk 'memori fotografi'. Saya seakan tersadar betapa polosnya saya untuk senantiasa terbuai dalam rindu berkepanjangan akibat detail memori yang rancu.



image source

Memori mengenai seseorang/sesuatu sejatinya akan sangat dipengaruhi oleh aneka konteks dan persepsi. Dan yang lebih menyedihkan, memori yang seharusnya lekat dengan imej objektif justru faktanya tidak bisa lepas dari yang namanya emosi. Hal ini akan menjadi lebih sensitif lagi apabila memori tersebut terkait dengan seseorang yang mempunyai dampak signifikan terhadap hidup kita, contohnya seperti memori mengenai seseorang yang kita cintai maupun memori akan seseorang yang kita benci. Pasalnya, memori tersebut mayoritas sudah terkontaminasi oleh hal-hal personal seperti perasaan dan sudut pandang kita akan orang tersebut. Masih ada pula konteks-konteks yang lainnya seperti keadaan mental kita di masa kini, keadaan mental kita di saat memori tersebut terekam maupun adanya informasi eksternal dari pihak ketiga.

Rindu jadi ibarat sebuah toksin yang dihasilkan dari kumpulan zat bias. 

Inilah yang membuat saya jadi kaku setiap mengekspresikan rindu. Kepada orang-orang yang saya kasihi, sebenarnya saya kerap merasa bersalah karena tidak mampu mentransmisikan rasa 'putus asa ingin bertemu' saya ini secara gamblang nan tulus. Pada akhirnya saya cuma bisa menyakiti perasaan mereka yang tak kalah halusnya dengan lembaran benang sutra. Ya, doakan saja semoga di kesempatan selanjutnya saya bisa jadi lebih baik lagi dalam hal mencinta dan dicintai.

Share:

Friday, February 3, 2017

#BedahLirik: Green Eyes (Coldplay)

Oke, sekali lagi harus saya akui kalau bicara masalah selera musik, saya tergolong yang secara konsisten selalu bergerak mundur (in terms of time) (pertanda orang yang susah move on wkwk). Kalau boleh jujur, saya jarang sekali tertarik dengan lagu-lagu generasi Z yang dipenuhi musik bergenre EDM dan sebangsanya. Dan bagi saya, kalau disuruh untuk memilih era kejayaan musik secara personal, saya tentu tanpa pikir panjang akan memilih era early 90s hingga early millenium. Entah mengapa, menurut saya, banyak lagu dari era tersebut yang mempunyai spirit yang muda namun tak bernada urakan alias sarat akan makna. Contohnya, di Indonesia ada Sheila On 7 hingga di Inggris terdapat Oasis dan Radiohead.

Hal ini tentu tidak sama dengan mayoritas lagu yang diproduksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yang mana cenderung mengangkat lirik dengan rangkaian kata kotor hanya agar terlihat keren dan kekinian belaka. Sudah begitu, kebanyakan melodinya bagi saya terdengar palsu, karena pada umumnya mengandalkan tambahan bantuan efek suara yang berlapis-lapis jumlahnya. Alhasil, lagu-lagu tersebut tidak bisa abadi dan amat mudah terlupakan setelah muncul lagu-lagu baru berjenis sama di pasaran.

Di sinilah mengapa saya bertahan dengan musik-musik lawas. Sebab, dengan segala kesederhanaannya, mereka tetap mampu bertahan di hati para penikmatnya dan tak lekang digerus oleh derasnya sang arus perubahan.

image source

By the way
, saya selalu menggemari lagu-lagu alternatif — atau lebih spesifiknya — musik alternatif yang berbau britpop — tak terkecuali pada musik sekaliber Coldplay yang hanya dengan sekali mendengarkan lagu-lagunya saja saya akan langsung terbuai. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena saya suka lagu lawas, maka saya lebih cenderung menyukai lagu-lagu Coldplay keluaran lama, yakni yang dimulai dari EP "The Blue Room" hingga album "X&Y" saja. Di album "Viva La Vida" pun saya hanya menyukai dua buah lagu, yaitu '42' dan 'Lost!'.

Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin fokus membahas sebuah lagu berbau serenade yang diciptakan Coldplay pada album "A Rush of Blood to the Head ". Lagu berdurasi 3 menit 43 detik itu pun diberi judul 'Green Eyes'. Hihi, barangkali bagi masyarakat Indonesia, sekalinya mendengar frasa bernada green eyes, yang langsung terbesit di pikiran mereka ialah sosok seseorang yang materialistis (mata ijo = mata duitan lol). Padahal bagi saya, ketika mendengar frasa green eyes, saya akan seketika teringat dengan sebuah lagu easy-listening yang ditelurkan oleh Coldplay pada tahun 2002 tersebut.

image source

Meski di sepanjang lagu Ia hanya mengandalkan permainan gitar akustik sederhana, namun justru di situlah daya tarik utamanya. Kekuatan lagu ini terletak pada barisan liriknya yang jujur nan tulus, yang mana merupakan alasan kenapa lagu ini dapat menggoreskan kesan cukup mendalam pada sanubari kecil saya.

Lucunya, lagu ini bukanlah lagu yang langsung saya gemari setelah mendengarkannya untuk pertama kalinya. Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa lagu ini begitu hopelessly romantic and simultaneously beautiful in its own way. Saya pun tidak sendiri dalam menilai bahwa lagu ini pantas disebut sebagai salah satu lagu kebanggaan Coldplay. Faktanya, lagu ini masuk pada pada jajaran lagu terbaik Coldplay sepanjang masa versi para kritikus via Billboard.

Tak hanya itu, lagu ini pun sampai dinyanyikan ulang oleh musisi country asal Amerika, Aubrie Sellers, dengan model aransemen yang lebih smoky namun tetap menawan hati. 'Green Eyes' juga dipercaya untuk dilantunkan pada acara pernikahan pasangan desainer Katy dan Phil hingga menjadi lagu dansa pertama pada pernikahan mereka, lho (#UhhSoSweet!).

Jadi, se-romantis apa sih lirik dari lagu Coldplay yang satu ini? Yuk langsung saja kita simak,

Lirik

Honey you are a rock
Upon which I stand
And I come here to talk
I hope you understand

The green eyes, yeah the spotlight, shines upon you
And how could, anybody, deny you
I came here with a load
And it feels so much lighter now I met you
And honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes

Honey you are the sea
Upon which I float
And I came here to talk
I think you should know

The green eyes, you're the one that I wanted to find
And anyone who tried to deny you, must be out of their mind
Because I came here with a load
And it feels so much lighter since I met you
Honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes, green eyes
Oh oh oh oh [x4]

Honey you are a rock
Upon which I stand

Terjemahan Lirik (Rough Translation)

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri
Dan aku datang kemari untuk bicara
Semoga engkau mau mengerti

Mata yang hijau itu, ya sorot cahayanya, menyinarimu
Dan bagaimana bisa, ada seseorang, yang mampu menolak pesonamu
Aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan kini beban itu terasa jauh lebih ringan, setelah ku bertemu denganmu
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu

Sayangku, kau adalah lautan
Yang menjadi tempatku mengapung
Dan aku datang kemari untuk bicara
Kurasa engkau harus tahu (memahaminya)

Mata yang hijau itu, engkaulah yang telah kucari selama ini
Dan siapapun, yang mampu mencoba menolak pesonamu, pastilah tak waras adanya
Karena aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu, mata yang hijau itu
Oh oh oh oh [x4]

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri

Makna lagu

Pada dasarnya, menurut yang dilansir oleh Rolling Stone, lagu ini ditulis sebagai bentuk tribute dari Coldplay pada Johnny Cash yang sebenarnya hendak berduet dengan Coldplay namun tak terlaksana karena beliau terlanjur menghadap pada Yang Kuasa. Selain itu, apabila ditinjau dari judulnya, lagu ini nampaknya juga ditujukan dan diciptakan untuk kekasih yang dicintai oleh sang penulis.

Yang membuat lagu ini berbeda dari serenade pada umumnya ialah rasa otentik liriknya — in other words, yakni kemurnian cinta yang ditumpahkan oleh sang penulis lagu di dalam lagunya. Sang penulis faktanya tanpa basa-basi menyatakan kekagumannya akan sang kekasih. Bukan pada kemolekan tubuhnya atau pun kecantikan paras wajahnya, melainkan hanya pada warna matanya yang hijau nan jernih. Ini menandakan bahwa sang penulis lagu benar-benar mencintai sang kekasih secara apa adanya, sebab kala memikirkan sang kekasih, Ia hanya terpikir akan kesejukan mata sang kekasih, bukan yang lainnya.

image source

Lagu ini pun saya rasa dibuat oleh sang penulis untuk meyakinkan kekasihnya agar Ia tak meragukan dirinya sendiri. Kemungkinannya sih, sang kekasih memang sedang dalam keadaan ingin putus karena merasa dirinya 'kurang pantas' untuk si penulis. Padahal sebaliknya, si penulis justru menganggap kekasihnya tersebut sebagai pijakan utama hidupnya agar Ia tetap bisa berdiri tegak dan tak tenggelam ke dasar palung penderitaan. Bahkan, sang penulis sampai dua kali menyebutkan kalimat 'and I come here to talk' , yang mana berarti sang penulis tak henti-hentinya berusaha guna membuat sang kekasih sadar akan keistimewaan yang dipunyainya.

Hal ini pun persis didukung oleh perspektif berikut ini: green eyes pada dasarnya merupakan jenis warna mata yang lebih langka ketimbang warna mata lainnya seperti coklat, biru, maupun hitam. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa lagu ini memiliki referensi akan sosok kekasih sang penulis yang memiliki suatu keunikan yang tak didapat pada orang lain. Bahkan, penggalan lirik 'And anyone who tried to deny you, must be out of their mind' pun menegaskan bahwa menurut sang penulis, siapapun yang tidak menerima keberadaan kekasihnya karena kekasihnya 'berbeda' tentulah akan merugi dibuatnya. Oh iya, perspektif ini saya temukan pada kolom komentar halaman lirik lagu 'Green Eyes' pada situs Songfacts. Komentar tersebut ditulis oleh seseorang yang bernama  Elizabeth. I may not know her, but I can't agree more with her perspective. Nevertheless, it is such a wonderful interpretation, isn't it?

Selebihnya, menurut saya, lagu ini merupakan perwujudan rasa syukur dan rasa terima kasih sang penulis terhadap keberadaan kekasihnya di dunia ini. Pasalnya, setelah Ia bertemu dengan sang kekasih, segala beban hidup dan bayang-bayang permasalahan seakan runtuh dan perlahan memudar. Dan sebaliknya, apabila sang kekasih nantinya pergi meninggalkannya, besar kemungkinan Ia tak akan bisa meneruskan hidupnya sebaik seperti saat Ia masih bersamanya.

image source

Well, saya bukanlah seseorang yang memiliki manik mata berwarna hijau. Akan tetapi, saya dijamin akan tetap melting bila ada seseorang yang menyanyikan lagu ini untuk saya (uhuk, #kode keras).

Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa pada kesempatan konser tur "A Head Full of Dreams" di St. Louis, masih ada saja audiens yang meminta agar lagu ini dinyanyikan oleh Chris Martin. Akhirnya, Chris pun menyanyikan lagu ini setelah bertahun-tahun tak melantunkannya secara live di depan para fans. Mengetahui kenyataan indah sekaligus pahit tersebut, dalam hati saya hanya bisa berkata: Oh, I really wish I was there listening to that miracle :(

Alright, rampung sudah sesi #BedahLirik lagu 'Green Eyes' ala Coldplay yang memang mantap jiwa ini. Pokoknya, bagi kalian yang sedang merencanakan untuk rekonsiliasi bersama pacar kalian yang lagi ngambek atau hendak menembak gebetan, lagu ini akan menjadi pilihan yang paling tepat nan paling sempurna. Akhir kata, sampai jumpa di sesi #BedahLirik yang berikutnya!



*Ini audio version dari lagu ini di Youtube, folks. Selamat mendengarkan!



*Oh yea, and this is me trying to cover this song on Smule :) Feel free to check 'em out! ⟶ https://www.smule.com/recording/coldplay-green-eyes-instrumental/926014419_989665284

Referensi

http://www.azlyrics.com/c/coldplay.html
http://www.billboard.com/articles/columns/rock/7542025/coldplay-songs-top-hits
http://www.rollingstone.com/country/news/see-aubrie-sellers-cover-coldplays-green-eyes-w462051
http://styleblueprint.com/charlotte/everyday/carolina-wedding-riverwood-manor/
http://www.speakersincode.com/2016/07/concert-review-photos-coldplay-at.html
http://www.songfacts.com/detail.php?lyrics=3281
Share:

Tuesday, January 31, 2017

Newsflash: INTJs are most likely to end up suffering in hell!

(Kalau kalian penasaran dan ingin tahu penjelasan lengkap mengenai tes MBTI versi Wikipedia, kalian bisa klik di sini. Sedangkan untuk penjelasan lengkap mengenai INTJ versi Wikipedia, kalian bisa klik di sini)

Warning: this post is most likely wrapped as a joke so, come on! Don't take it too personally!

Setiap hari ― bukan, setiap detik ― saya selalu dibayangi dengan pertanyaan jahanam bernada 'apakah pada ujungnya saya hanya akan berakhir di neraka?'. Well, saya paham kalau pertanyaan macam ini adalah pertanyaan yang mainstream ― namun juga bisa dibilang esensial ―  karena Ia pasti dipertanyakan oleh setiap insan yang garis hidupnya berujung pada keabadian bertajuk 'kematian'. Jujur saja ya, sebagai seorang INTJ, saya tidak terlalu optimis akan hal ini. Melihat orang yang begitu percaya diri akan lolos dari neraka pun membuat saya merasa cringey sekaligus kagum (may the odds be ever in your favor, guys).


Alasan dari kepesimisan saya tadi bisa jadi karena kriteria untuk masuk neraka maupun masuk surga masih lumayan membingungkan bagi saya. Ya, saya tahu kalau mayoritas kriteria itu sudah disebut di berbagai kitab suci, ditafsirkan, dan disampaikan secara gamblang oleh para ahli serta pemuka agama. Namun secara personal, sebagai seseorang yang butuh definite kind of criteria, saya masih meragu apakah 'orang baik' akan selalu masuk surga dan 'orang jahat' akan selalu masuk neraka (who knows what God knows). However, it's not like I'm questioning every single validity and axiom ― toh pada akhirnya ya saya juga jelas ingin masuk surga. Cuma, saya kurang optimis, itu saja.

Lucunya, pagi ini otak saya sedang ingin 'berbelok'. Bila pada pernyataan-pernyataan sebelumnya saya terkesan tidak ingin memberi label, tapi nyatanya kok saya tiba-tiba terpikir bahwa INTJ adalah salah satu kandidat kepribadian yang paling potensial untuk masuk neraka (lol). Without further due, here are the reasons why:

1.    Terlalu Banyak Mempertanyakan Kebenaran

Lho? Bukannya selalu mempertanyakan kebenaran itu bagus? Ehem, tolong bedakan penggunaan kata 'selalu' dan 'terlalu', ya. Terlalu banyak mempertanyakan kebenaran itu yang bodoh, yang bisa jadi akan membuat siapa saja keblinger alias tersesat. 

image source
The thing is, INTJs are delicately prone to this issue. Bukannya sok religius atau bagaimana ya, tapi masih ingat kan dengan kisah Nabi Musa AS, kaum Bani Israil, dan sapi betina? Itu lho, yang tertera di Surah Al-Baqarah ayat 67-71? Nah, ya itu, terkadang karena terbawa oleh kutukan superiority complex, para INTJ bisa jadi se-terbelakang dan se-laknat itu. .

2.    Sering Dianggap Arogan

image source
Sudah bukan rahasia Ilahi lagi kalau seorang INTJ sering meremehkan sesuatu karena Ia acap kali merasa dirinya terlampau mampu (terutama INTJ tipe assertive). Alhasil, Ia jadi dianggap arogan oleh orang-orang sekitar. Ia pun jadi sering menuai banyak kebencian. Lol, terkesan dramatis dan menyeramkan, ya? Hihi, ya gitu deh, makanya dia kemungkinan besar berjodoh sama yang namanya neraka.  

3.    Kerap Kurang Peduli dengan Perasaan Orang Lain

image source
Ya, singkatnya, INTJ memang termasuk yang kurang peduli dengan para makhluk di sekitarnya, yang mana merupakan kelebihan sekaligus kelemahan dari INTJ. Kalaupun mereka berlagak peduli, mayoritas hanya sekedar untuk basa-basi atau karena mereka berprasangka buruk pada individu atau kelompok yang bersangkutan. Alhasil, banyak juga yang pada akhirnya jadi malas untuk peduli secara tulus pada si INTJ. Bahkan, mungkin diam-diam banyak juga yang mendoakan si INTJ ini agar segera mampus alias enyah dari dunia ini (eh buset).

4.    Munafik

image source
Nah ini, alasan yang paling ultima. Seperti yang kita semua ketahui, Tuhan begitu membenci golongan manusia yang munafik. And guess what? For INTJs, hypocrisy is like their true bff. Kenapa? Entahlah, biasanya mereka sering bilang 'tidak' meski faktanya mereka ingin bilang 'iya' (atau sebaliknya). Standar lah ya, alasannya sih untuk kepentingan image building. Namun terkadang, INTJ lupa kalau aktivitas image building tersebut adalah kunci utama yang akan mengantarkan mereka ke depan gerbang neraka.


Bagaimana? Sudah merasa terhibur akan rentetan kebodohan INTJ di atas? Ahaha, sekali lagi saya mau mengingatkan, semua ini cuma sepintas lawakan ala INTJ yang terkenal receh (pasalnya hidup ini memang hanyalah senda gurau belaka). Jadi, apabila ada (baca: banyak) poin-poin yang menurut kalian berbau idiot maupun kontradiktif, ya maklumi saja. Namanya juga guyonan.

Toh pada intinya, artikel ini saya buat untuk menunjukkan sisi manusiawi INTJ, yang bisa 'pintar' sekaligus 'bodoh' secara simultan— yang sama-sama punya kesempatan untuk masuk neraka persis seperti manusia maupun personalities yang lainnya.

So, as usual, don't get us wrong since we all have the same amount of chance to enter this uncomfortably fiery place called 'hell' — baik neraka yang asli maupun jenis 'neraka' yang lain.



PS: maaf kalau artikel ini terlalu random dan judulnya agak terkesan clickbait (hehe). Stay awesome, folks!
Share:

January 2017

Mencoba untuk menyatu
Setitik minyak di air kehidupanmu
Seberapa keras pun mencoba
Sukma-nya terlahir membatu

Akhir-akhir ini dibutakan cahaya
Lupa jati diri yang hina
Air mata mencatatkan
Harusnya hitam tak jadi kelabu

Siapa bilang kegelapan itu sementara?
Justru sinarmu-lah yang tidak abadi
Berputar ke sana kemari
Bermain dengan keraguan perasaan

Tapi, apa bisa?
Jantung hati diganti dengan dusta?
Apa bisa?
Segala janji disamakan dengan belati?

Share:

Monday, November 14, 2016

High Speed (Ceritanya Ini Tugas Kelas Grammar)


High Speed

                I was once dating a girl named Clara. She was a lovely young woman with all kinds of sweet dispositions. She had this bob-styled short black hair with undeniably cute fringe which made her face somewhat looked even more rounded and angelic. At first, I was not fully aware of her existence since she was that out-of-my-league kind of girl. To be perfectly honest, as a scholar, I was neither interested in hanging out with any girl nor boy since I had to sincerely focus with my study. However, Clara was either the first thing I remember in the morning or the very last thing I remember before going to bed. So, before I ended up murmuring her name constantly in the nearest mental hospital, I decided to ask her out.
                Things were going well, but there was one thing I could not stand about her: she was extremely unpunctual. As someone who always shows up early in every occasion, I could not bear the pain waiting for her who invariably showed up after at least 30 minutes late in every date we had. On the forth date, I even bought her a watch, despite the fact that she had already worn one on her left wrist. Well, I believed she was an intelligent lady and had guessed my intention about warning her not to be late again. Nonetheless, she happened to take it as an insult. We then fought horribly, and I said that she was a graceless creature who never appreciated time as much as I do. Two days later, I was about to attend a seminar on campus, and she texted me that she was going to be there as well. She wanted to make a deal with me. The deal was if she could manage to arrive on time to that seminar, then I had to take my words back. As I expected nothing bad would happen, I doubtlessly agreed. Yet, I expected that she would be late as usual. I had already portrayed in my head the scenario of her asking for apology with her goddess-like face, but she never showed up. It turned out that I was the one who never appreciated my time with her.
Share:

Monday, July 11, 2016

#BedahLirik: Uno (Muse)

Oke, bisakah kita memulai postingan kali ini dengan ekspresi ' Oh my God ' ?

Oke, boleh ya? Baiklah saya buka postingan ini sekarang,

Oh, my God.

Jadi sebenarnya, saya sekarang sedang menyukai (baca: tergila-gila) pada lagu Muse yang berjudul 'Uno'. Hihi, persis seperti nama sebuah permainan kartu, ya? However, I can strongly assure you that this song has nothing to do with that game (lol) .

Well, lagu Muse mana sih yang enggak brilian dan enggak bikin eargasm? Jawabannya adalah: tidak ada! Dan untuk lagu 'Uno' , meski sudah dirilis sejak Juni 1999 , lagu ini tetap tidak pernah gagal membuat saya angguk-angguk kepala di setiap kali saya mendengarkannya.

image source
Ya, jujur saja nih, saat pertama kali mendengarkan lagu ini, saya merasa kalau lagu ini semacam memiliki irama yang aneh. Tapi setelah didengarkan berkali-kali, eh ternyata iramanya nyantol juga di telinga.

Usut punya usut, bagian bass yang dimainkan oleh Chris ini identik dengan bagian bass sebuah lagu berjudul 'Conquest' dari Patti Page. Melodi gitar lagu ini pun juga, hm, aduhai sekali. Selain itu, saya baru tahu juga dari Wikipedia kalau pada album Showbiz (album dari lagu ini) , amplifier gitar yang dipakai selama rekaman semacam 'blew up' alias tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Namun uniknya, justru hal itu menimbulkan distorsi yang apik pada lagu-lagu di dalam album debut dari Muse ini.

Dan ya, saya tahu kalau saya terbilang 'terlambat' menyukai lagu yang satu ini karena waktu tahun 1999, saya masih baru saja berumur dua tahun. Boro-boro ngedengerin Muse, buat mendengarkan omongan emak bapak saya aja saya masih kagok (ehe).

Oke, tanpa menunggu lama lagi, yuk kita selidiki lagu epik Muse yang satu ini,

Lirik

This means nothing to me
'Cause you are nothing to me
And it means nothing to me
That you blew this away

'Cause you could have been number one
If you only found the time
And you could have ruled the whole world
If you had the chance

* You could have been number one
   And you could have ruled the whole world
   And we could have had so much fun
   But you blew it away

You're still nothing to me
And this is nothing to me
And you don't know what you've done
But I'll give you a clue

You could have been number one
If you only had the chance
And you could have ruled the whole world
If you had the time

(Back to * 2x )

Terjemahan Lirik (Rough Translation)
Ini tidak berarti apa-apa untukku
Karena kamu bukan siapa-siapa bagiku
Dan ini tidak masalah bagiku
Meski kamu telah menyia-nyiakan semuanya

Karena kamu seharusnya bisa menjadi yang nomor satu (di hatiku)
Andai kamu datang di waktu yang tepat
Dan kamu bisa saja memiliki seisi dunia
Jika kamu memang memiliki kesempatan itu

* Kamu seharusnya bisa menjadi yang nomor satu (di hatiku)
   Dan kamu seharusnya bisa memiliki seisi dunia
   Dan kita seharusnya bisa bahagia bersama-sama
   Tapi kamu telah menyia-nyiakan semuanya

Kamu masih bukan siapa-siapa bagiku
Dan ini masih bukan apa-apa untukku
Dan kamu tidak sadar akan apa yang telah kamu perbuat
Tapi akan kuberi tahukan kepadamu

Kamu seharusnya bisa menjadi yang nomor satu (di hatiku)
Jika kamu memang memiliki kesempatan itu
Dan kamu bisa saja memiliki seisi dunia ini
Andaikan kamu memiliki waktu

(Kembali ke * 2x )

Makna Lagu
Menilik dari judulnya, lagu ini diambil dari kata 'Uno' yang memiliki arti 'satu' atau angka satu dalam bahasa Spanyol. Hal ini lantas langsung mengindikasikan bahwa lagu ini diciptakan akibat keberadaan sebuah objek yang sempat mengisi kehidupan si penulis lagu. Objek tersebut pun dapat diinterpretasikan sebagai seseorang yang begitu dicintai hingga dianggap sebagai 'seseorang yang nomor satu' dalam kehidupan sang penulis. Namun begitu, sayang, si objek ini justru memandang sebelah mata cinta yang dimiliki oleh sang penulis tersebut.

image source
Kabarnya sih, ini lagu memang menceritakan tentang mantan kekasih dari si Matt Bellamy. Namun begitu, seperti yang dikutip dari MuseWiki, Matt juga berkata bahwa lagu ini punya makna lain selain tentang kisah percintaan yang kandas. Matt berkata kalau lagu ini juga memiliki makna tentang 'breaking out' alias semacam 'melakukan sebuah gebrakan'. Matt kembali menambahkan bahwa lagu ini merupakan cerminan dari hasrat seseorang untuk melaksanakan keinginan terdalamya.

Matt berharap dengan mendengarkan lagu ini, kita justru menjadi makhluk Tuhan yang move on dari segala masalah di masa lalu. Ini diperkuat dengan banyaknya pengulangan kalimat 'you're nothing to me', yang mana menunjukkan bahwa walau sempat tersakiti oleh sang mantan, Matt tetap bisa berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Jadi, daripada kita terus-terusan berandai-andai akan skenario yang terjadi di masa lalu, Matt berpikir bahwa lebih baik kita 'carry on with what we're doing'.


Oke, selesai sesi #BedahLirik kali ini bersama lagu ciamik karya Muse yang berjudul 'Uno'. Saya sangat merekomendasikan lagu ini pada kalian wahai para pecinta musik alternative rock. Rugi deh pokoknya kalau kalian tidak mendengarkan lagu yang satu ini. Akhir kata, sampai jumpa di sesi #BedahLirik yang berikutnya!

*nih video klip asli lagunya, so happy baper... eh salah! Happy buffering!



Share:

Hasil Iseng Ngetik Beberapa Keyword di Google (and I Found Some Ridiculous yet Interesting Results)

Hi, Dialers!

Di zaman teknologi yang canggih ini, kita semua tahu bahwa ada satu aktivitas yang harus kita lakukan ketika kita ingin mencari sebuah informasi. Apakah gerangan aktivitas itu? Yup, jawabannya adalah dengan mencari informasi tersebut di internet, atau lebih tepatnya mengetikkan pertanyaan kita pada kolom pencarian si Google. Alhasil, jika dahulu seorang anak acapkali bertanya kepada bapaknya (sampai ada lagunya segala kan), eh kini ternyata seorang anak justru acapkali bertanya kepada mbah gugel.

The internet is so big,
so powerful and pointless
that for some people it is a complete
substitute for life

(Andrew Brown, British Journalist)

Kebetulan, suatu malam, saya tiba-tiba iseng mengetik beberapa kata kunci yang sebenarnya begitu umum untuk diketik pada kolom pencarian Google. Namun menariknya, hasil pencarian teratas dari beberapa kata kunci tersebut menampilkan hasil yang menggelitik untuk dibahas. Hoho, ingin tahu sekonyol dan sekocak apa hasil penelusuran Google terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut? Yuk markitip, yuk mari kita intip,

1.    Kenapa Aku


Ahaha, ini lucu banget nih. Jadi awalnya saya sudah terlanjur expect bakalan menemukan kumpulan pertanyaan epik seperti 'kenapa aku bisa melihat masa depan' atau 'kenapa aku bisa menembus brangkas dan mengambil uang yang ada di dalamnya' (tuyul kali). Eh, tapi ternyata, hasil yang saya dapatkan malah berbanding terbalik dengan semua harapan.

Peringkat pertama pun diduduki oleh kata kunci 'kenapa aku masih jomblo' (yang mana jawabannya lebih susah dicari daripada jawaban soal SBMPTN). Peringkat selanjutnya disusul oleh kata kunci 'kenapa aku jelek' (jawabannya masih menjadi misteri). Bahkan ada juga kata kunci 'kenapa aku terlahir jelek' dan 'kenapa aku bodoh', yang mana mencerminkan begitu rendahnya rasa percaya si pengetik terhadap dirinya sendiri. Lucunya lagi, peringkat lima besar teratas ini kembali ditutup oleh pertanyaan 'kenapa aku jomblo'. Udah macem lingkaran setan aja ya, sob.

Menilik dari semua pertanyaan di atas, akhirnya timbul semacam pertanyaan besar di pikiran saya: kenapa orang-orang ini terdengar begitu putus asa dan tidak percaya diri? Dan satu lagi, kenapa mereka lebih memilih untuk fokus mencari tahu tentang kekurangan mereka ketimbang kelebihan yang mereka miliki?

So far, saya sih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan saya tersebut. Or should I look for the answer on google as well?

2.    Kenapa Dia



Next, ada pertanyaan yang jawabannya pasti soal meminta penjelasan yang berhubungan dengan kelakuan si 'dia'. Ya, menurut saya sih, pertanyaan ini juga bisa jadi merefleksikan kekhawatiran si pengetik terhadap si 'dia', yang notabene adalah seseorang yang dikasihi oleh si pengetik. Hm, kira-kira, kekhawatiran macam apa saja sih yang sampai bisa merajai kolom hasil pencarian gugel?

Peringkat jawara ternyata ditempati oleh kata kunci 'kenapa dia cuek' (kenapa hayo). Peringkat kedua pun lantas disandang oleh 'kenapa dia gak peka' (hadeh). Ahaha, kedua pertanyaan ini memang sudah ibarat first world problem-nya para anak muda, ya. Bicara urusan 'cuek' dan 'gak peka', kedua hal ini bisa jadi merupakan hal paling menyebalkan sekaligus hal paling ngangenin yang dimiliki oleh seseorang. Makanya, tidak heran kalau kedua hal ini bisa nongkrong sebagai peringkat teratas di kolom pencarian. 

Finally, untuk peringkat lainnya pun disusul oleh pertanyaan 'kenapa dia menjauh dariku' (kasian amat), 'kenapa dia tiba-tiba cuek' (lagi), dan 'kenapa dia berubah sikap' (miris). Hm, ternyata semua pertanyaannya berbau negatif ya, guys. Semoga saja gugel memiliki jawaban dan solusi yang ampuh untuk para galauers sekalian ini.

3.    Apakah Aku



Pertanyaan yang satu ini bisa dibilang menarik karena ternyata memberikan saya hasil pencarian yang cukup bervariasi. Ekspektasi awal sih, saya memang sudah semacam 'mengira' bahwa hasil yang ditampilkan bakalan agak 'lebay'. Ini mungkin dikarenakan kata kunci ini memakai kata 'apakah', yang mana menurut saya menampilkan kesan bahwa si pengetik itu sedang 'worrying over something'.

Usut punya usut, peringkat pertama pun disandang oleh 'apakah aku jatuh cinta' (cheesy abis). Ya, untuk kali ini saya agak memakluminya karena untuk mengetahui pertanda dari kejadian yang satu ini memanglah tidak mudah sifatnya.

Lanjut di peringkat kedua, ternyata ada pertanyaan 'apakah aku pelarianmu saja' (wow). Oke, respon pertama saya waktu membaca hasil ini adalah: ternyata cukup banyak juga orang yang menjadi korban pelarian di Indonesia ini (bingung mau ketawa atau mau nangis). Tapi menurut saya ya, daripada tanya mbah gugel, kayaknya mending langsung tanya sama pasangannya aja deh biar cepet clear masalahnya.

Selanjutnya, peringkat ketiga diambil oleh 'apakah aku seorang psikopat' dan disusul oleh 'apakah aku cantik'. Hm, keduanya adalah pertanyaan yang menurut saya memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan isu psikologis. Menakutkan sih sebenarnya. Saya jadi berharap semoga kedua keyword ini hanya hasil pencarian iseng saja. Terutama untuk hasil pencarian terakhir yang berbunyi: 'apakah aku hamil'. Semoga itu memang hasil pencarian yang dicari oleh para wanita yang sudah menikah dan memang berencana untuk memiliki anak, ya. Hoho.

4.    Apakah Dia


Masih seputar pertanyaan 'apakah', kali ini si objek pun berganti dari si 'aku' menjadi si 'dia'. Kerennya, lima hasil teratas dari pencarian ini semuanya merujuk pada pertanyaan mengenai keingintahuan soal perasaan si 'dia' terhadap si pengetik.

Peringkat pertama dan kedua berhasil disabet oleh pertanyaan 'apakah dia mencintaiku' dan 'apakah dia menyukaiku'. Ciee, ya kali gugel bisa mendeteksi gejala-gejala cinta yang timbul pada perasaan si 'dia' (wkwk).

Uniknya, setelah si pengetik mengetahui apakah si 'dia' demen kepada dirinya di peringkat dua teratas, eh peringkat ketiga pun menyusul dengan bunyi 'apakah dia merindukanku' (asek). Ciee ciee, si pengetik pun alhasil menjadi semakin baper dan semakin Ge-eR hingga pada akhirnya, timbul-lah pertanyaan ultima yang berbunyi: 'apakah dia jodoh saya'. Wuhuuuuu, mantab gila enggak, tuh?

Jadi darisini, apa kesimpulan yang bisa saya dapatkan? Yup, benar sekali, Google sepertinya sudah mulai merambah profesi sebagai dokter cinta mutakhir dari ratusan juta umat manusia di bumi pertiwi. Selamat ya, Google.

5.    Apakah Kamu



Si 'aku', sudah. Si 'dia' juga, sudah. Nah, sekarang giliran si 'kamu' nih yang kedapatan rasa 'kepo' dari si pengetik. Hm, 'kepo' yang seperti apa ya kira-kira?

Faktanya, 'apakah kamu tahu' ternyata berhasil mendarat di peringkat paling atas lho, guys. Ini saya rada bingung, kenapa ya si pengetik kepo banget soal apakah kamu adalah jadi-jadian dari olahan kedelai yang lembut nan berwarna putih itu? (wkwk)

Selanjutnya untuk peringkat kedua, ini rada bagaimana gitu sih menurut saya, ternyata ada pertanyaan yang berbunyi 'apakah kamu gay'. Sepertinya sih ini ada hubungannya dengan isu LGBT yang kini sedang marak diperdebatkan di seantero negeri. Ya, no comment aja deh sama isu sensitif yang satu ini.

Last but not least, di peringkat nomor tiga hingga peringkat nomor lima, lagi-lagi semua pertanyaannya menyangkut hal berbau romantisme macam 'apakah kamu baik-baik saja' dan 'apakah kamu mencintaiku'. Hadeh, guys, sekali lagi ya, kalau pertanyaan semacam ini mbok ya jangan tanya ke mbah gugel doongg. Alangkah jauh lebih baiknya kalau kalian langsung tanyakan saja pertanyaan tersebut pada orang yang bersangkutan. Ini semata-mata agar jawaban yang kalian dapatkan itu valid dan benar adanya. Oke?


Baiklah, sampai disini dulu laporan mengenai kegiatan iseng saya yang sama sekali tidak berfaedah ini. So, apa pendapat kalian mengenai semua hasil pencarian di atas?

Share: